Palawa Unpad

Sekelompok mahasiswa yang baru kuliah tiga bulan di Unpad sedang kumpul-kumpul di depan pintu Ruang K-2 di kampus Jalan Dipati Ukur 35 Bandung. Kalau tidak salah waktu itu sore hari di bulan Oktober 1981.

Sekitar pukul 4.30 sore (1 Oktober 1982) Danlat mengumpulkan semua peserta diklatdas. Semua peserta berbaris. Danlat memberi tahu segala hal yang berkaitan dengan keberangkatan ke lokasi pendidikan dasar. Tidak ada kendaraan yang akan peserta tumpangi.

Halaman Utama

WebSite

Palawa Indonesia

Tentang Perhimpunan

- Lambang
- Angkatan
- Dewan Pengurus
- Kegiatan

logo 1/4 abad plw

Refleksi Mabim Panjat Tebing

Kategori Umum, 30 June 2008 7:05 WIB

Written by :
DWI JAYA ANDIKA SRG
XPLW 005 WS

Operasional demi operasional telah kita jalani dan pada kali ini aku akan menceritakan pengalaman serta ilmu yang aku dapatkan dalam operasional Panjat Tebing atau Rock Climbing. Hanya sayang, aku dan saudaraku Rina tidak dapat berangkat bersama – sama dengan saudaraku lainnya. Kami berdua sedikit tertinggal materi tapi kami berhasil mengejar ketertinggalan.

It’s Start With . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Sabtu, 12 Mei 2007
Sabtu siang itu aku terpaksa berlari – lari dari kampus menuju sekre. Hal ini dikarenakan aku harus menyelesaikan urusan akademikku ini. Aku telah berjanji dengan saudaraku Rina untuk menyusul bersama ke Citatah. Ternyata aku harus menunggu lama karena Rina tak kunjung datang. Kang Bayhaqi kudapati sedang sakit di sekre. Setelah beberapa lama baru Rina datang. Keberangkatanku kali ini hampir sama dengan keberangkatan lainnya, yaitu selalu membawa beban yang terbilang berat. Sebuah galon air mineral yang berisi air kali ini turut menguji kemachoanku.
Sesampainya di lokasi operasional dengan menggunakan bus, aku melihat saudaraku lainnya sedang melakukan pemanjatan kering. Pemanjatan kering ini merupakan salah satu metode latihan untuk memasang pengaman. Aku ingin langsung mengikuti materinya tapi langit berkata lain. Hujan pun turun. Setelah beberapa saat hujan pun berhenti dan saudaraku Erik mendapat mandat dari Bang Faris untuk membimbing Aku dan saudaraku Rina untuk mengejar ketertinggalan materi.
Ternyata mencari pengaman tidak gampang dan sangat menetukan nasip kita di ketinggian tebing nantinya. Setelah mencoba beberapa pengaman akhirnya kami mendapatkan pengaman emas, jenis pengaman yang sangat kuat dan dapat dijadikan sebagai tambatan. Tak yakin dengan kekuatannya, aku dan rina mengujinya dengan bergelayutan.
Senjapun tiba dan kami diinstruksikan untuk menghentikan materi hari ini. Kegiatan kami selanjutnya yaitu menyiapkan makan malam. Setelah makan malam usai, seperti biasanya evaluasi dan briefing tak lupa dilakukan.
Setelah itu, kami bebas berkegiatan masing – masing. Bang Faris dan Kang Obosh mempunyai ide untuk membeli makanan. Adalah Ditta dan Rina yang dipercayakan untuk membeli makanan. Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya makanan pun tiba tapi untuk menghabiskan makanan tersebut tidak dibutuhkan waktu yang lama. Bak seekor ular yang sesudah makan kenyang, kami pun tertidur lelap dalam dinginnya Citatah.

Minggu, 13 Mei 2007
Pagi di Citatah dimulai dengan menyiapkan makanan pagi untuk sarapan dan menyiapkan peralatan dengan membaginya menjadi dua. Hari ini kami dibagi menjadi dua tim. Tim I terdiri dari : Jaya, Maggie, Erik, dan tim II terdiri dari : Sobur, Ditta, Aisyah, dan Rina. Makan pagi kali ini tidak beralaskan piring melainkan beberapa lembar daun pisang. Hal itu juga yang menambah selera makan kami naik.
Materi pertama hari ini dimulai dengan pemanjatan kering. Dalam pemanjatan kering ini yang menjadi leader secara bergantian. Dalam timku, Maggie menjadi leader pertama. Setelah matahari tepat di atas kepala, kami diperintahkan untuk beristirahat dan makan siang. Hanya mie instant yang mengisi perut kami.
Seusai makan siang, materi berikutnya adalah materi pemanjatan hingga sampai gua dengan memasang pengaman. Adalah Aku, The Macho – Jay yang akan menjadi leader di tim I. Karena pemanjatan free climbing ini keamanan dan keselamatan sangat bergantung dengan pengaman yang kita pasang. Kali ini aku sangat menghabiskan banyak waktu untuk mencari pengaman yang bernilai emas. Aku tidak mau bersifat asal – asalan dalam mencari pengaman karena itu sama saja mempertaruhkan nyawaku dan dua orang saudaraku, Maggie dan Erik. Stopper dan lubang tembus lah yang menjadi andalanku dan berhasil ku pasang. Belum sampai gua tapi Kang Obosh menginstruksikan untuk membuat tambatan. Pria berbadan tegap ini hanya membolehkan satu lubang tembus sebagi back up sedangkan tambatan yang lain harus memberdayakan peralatan yang kita bawa. Sebuah friend akhirnya dapat meyakinkan aku. Setelah aku aman maka giliran saudaraku Maggie menyusul sebagai pemanjat kedua dan aku sebagai hanging belayer. Tanpa banyak masalah dia berhasil sampai di atas menggantung bersamaku. Kini giliran pemanjat terakhir, saudaraku Erik melakukan pemanjatan dan cleaning pengaman yang telah ku pasang. Sementara Maggie sebagai belayer.
Setelah semuanya sampai di atas, dengan mengandalkan sepatah kata Do’a dan sebuah friend kami bergantung ria.
Merasa telah cukup, Kang Obosh menginstruksikan untuk melakukan Rappeling dengan tali statis yang sudah Ia pasang.
Setelah semuanya selesai, kami dengan sigap membereskan peralatan yang telah kami pakai dan mendatanya kembali. Pendataan pun sesuai, maka kami melakukan packing. Setelah packing, kami langsung mencari bis untuk pulang ke Jatinangor. Kira – kira jam 8 malam kami pun sampai.

Puji dan Syukur Tuhan atas perlindungan – Mu
Terima kasih PALAWA UNPAD
Thanks to Para pendamping untuk bimbingan selama Operasional
Tetap semangat saudara – saudaraku !

You Are Alone

Kategori Umum, Perjalanan, Ekspedisi, 27 April 2008 10:02 WIB

Oleh: Bayu Bharuna - PLW 24382073 KP

Menyerah…? Untuk Apa

Pegunungan tinggi kerap bukanlah arena petualangan yang nyaman. Bahaya selalu mengintai mereka yang lengah dan under estimate terhadap kekuatan monster alam ini. Cuaca buruk dan beratnya medan membuat setiap kesalahan kecil saja dapat membawa risiko maksimal. Dapat dimengerti bila majalah Forbes memasukkan pendakian gunung ke dalam salah satu olahraga paling berbahaya di muka bumi, setara dengan suatu pertarungan hidup mati dengan seekor banteng.
Read the rest of this entry »

Berlatih ke Alam demi Kemanusiaan

Kategori Gunung Hutan, Umum, Rock Climbing, ORAD, Perjalanan, Ekspedisi, Kemanusiaan, SAR, 27 March 2008 9:57 WIB

Oleh: Bayu Bharuna - PLW 24382073 KP

Bakat adalah karunia Tuhan yang diberikan secara rahasia,
yang kita ungkap tanpa sadar
(Montesquieu)

Tak ada yang dapat menghalangi para petualang untuk sampai ke tempat tujuannya. Imajinasi untuk bebas dan menemukan keindahan telah mendorong para petualang pergi ke berbagai belahan bumi untuk menjelajahi berbagai blank spot yang belum terpetakan. Keinginan untuk memberi makna lebih pada hidup telah memberikan daya jelajah ekstra kepada para pemilik jiwa yang resah itu.

Tak ada medan yang terlampau ekstrem, tak ada udara yang terlalu tipis, dan tak ada kesulitan yang tak terpecahkan bagi petualang dalam melakukan penjelajahannya. Namun seiring berlalunya waktu, para pemburu tua itu merasa lelah dan mulai surut berkegiatan, bagai karang yang awalnya kokoh kian hilang tergerus gelombang. Batas-batas imajiner itu seolah makin tampak di depan mata.
Read the rest of this entry »