Refleksi Mabim Panjat Tebing
Kategori Umum, 30 June 2008 7:05 WIBWritten by :
DWI JAYA ANDIKA SRG
XPLW 005 WS
Operasional demi operasional telah kita jalani dan pada kali ini aku akan menceritakan pengalaman serta ilmu yang aku dapatkan dalam operasional Panjat Tebing atau Rock Climbing. Hanya sayang, aku dan saudaraku Rina tidak dapat berangkat bersama – sama dengan saudaraku lainnya. Kami berdua sedikit tertinggal materi tapi kami berhasil mengejar ketertinggalan.
It’s Start With . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Sabtu, 12 Mei 2007
Sabtu siang itu aku terpaksa berlari – lari dari kampus menuju sekre. Hal ini dikarenakan aku harus menyelesaikan urusan akademikku ini. Aku telah berjanji dengan saudaraku Rina untuk menyusul bersama ke Citatah. Ternyata aku harus menunggu lama karena Rina tak kunjung datang. Kang Bayhaqi kudapati sedang sakit di sekre. Setelah beberapa lama baru Rina datang. Keberangkatanku kali ini hampir sama dengan keberangkatan lainnya, yaitu selalu membawa beban yang terbilang berat. Sebuah galon air mineral yang berisi air kali ini turut menguji kemachoanku.
Sesampainya di lokasi operasional dengan menggunakan bus, aku melihat saudaraku lainnya sedang melakukan pemanjatan kering. Pemanjatan kering ini merupakan salah satu metode latihan untuk memasang pengaman. Aku ingin langsung mengikuti materinya tapi langit berkata lain. Hujan pun turun. Setelah beberapa saat hujan pun berhenti dan saudaraku Erik mendapat mandat dari Bang Faris untuk membimbing Aku dan saudaraku Rina untuk mengejar ketertinggalan materi.
Ternyata mencari pengaman tidak gampang dan sangat menetukan nasip kita di ketinggian tebing nantinya. Setelah mencoba beberapa pengaman akhirnya kami mendapatkan pengaman emas, jenis pengaman yang sangat kuat dan dapat dijadikan sebagai tambatan. Tak yakin dengan kekuatannya, aku dan rina mengujinya dengan bergelayutan.
Senjapun tiba dan kami diinstruksikan untuk menghentikan materi hari ini. Kegiatan kami selanjutnya yaitu menyiapkan makan malam. Setelah makan malam usai, seperti biasanya evaluasi dan briefing tak lupa dilakukan.
Setelah itu, kami bebas berkegiatan masing – masing. Bang Faris dan Kang Obosh mempunyai ide untuk membeli makanan. Adalah Ditta dan Rina yang dipercayakan untuk membeli makanan. Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya makanan pun tiba tapi untuk menghabiskan makanan tersebut tidak dibutuhkan waktu yang lama. Bak seekor ular yang sesudah makan kenyang, kami pun tertidur lelap dalam dinginnya Citatah.
Minggu, 13 Mei 2007
Pagi di Citatah dimulai dengan menyiapkan makanan pagi untuk sarapan dan menyiapkan peralatan dengan membaginya menjadi dua. Hari ini kami dibagi menjadi dua tim. Tim I terdiri dari : Jaya, Maggie, Erik, dan tim II terdiri dari : Sobur, Ditta, Aisyah, dan Rina. Makan pagi kali ini tidak beralaskan piring melainkan beberapa lembar daun pisang. Hal itu juga yang menambah selera makan kami naik.
Materi pertama hari ini dimulai dengan pemanjatan kering. Dalam pemanjatan kering ini yang menjadi leader secara bergantian. Dalam timku, Maggie menjadi leader pertama. Setelah matahari tepat di atas kepala, kami diperintahkan untuk beristirahat dan makan siang. Hanya mie instant yang mengisi perut kami.
Seusai makan siang, materi berikutnya adalah materi pemanjatan hingga sampai gua dengan memasang pengaman. Adalah Aku, The Macho – Jay yang akan menjadi leader di tim I. Karena pemanjatan free climbing ini keamanan dan keselamatan sangat bergantung dengan pengaman yang kita pasang. Kali ini aku sangat menghabiskan banyak waktu untuk mencari pengaman yang bernilai emas. Aku tidak mau bersifat asal – asalan dalam mencari pengaman karena itu sama saja mempertaruhkan nyawaku dan dua orang saudaraku, Maggie dan Erik. Stopper dan lubang tembus lah yang menjadi andalanku dan berhasil ku pasang. Belum sampai gua tapi Kang Obosh menginstruksikan untuk membuat tambatan. Pria berbadan tegap ini hanya membolehkan satu lubang tembus sebagi back up sedangkan tambatan yang lain harus memberdayakan peralatan yang kita bawa. Sebuah friend akhirnya dapat meyakinkan aku. Setelah aku aman maka giliran saudaraku Maggie menyusul sebagai pemanjat kedua dan aku sebagai hanging belayer. Tanpa banyak masalah dia berhasil sampai di atas menggantung bersamaku. Kini giliran pemanjat terakhir, saudaraku Erik melakukan pemanjatan dan cleaning pengaman yang telah ku pasang. Sementara Maggie sebagai belayer.
Setelah semuanya sampai di atas, dengan mengandalkan sepatah kata Do’a dan sebuah friend kami bergantung ria.
Merasa telah cukup, Kang Obosh menginstruksikan untuk melakukan Rappeling dengan tali statis yang sudah Ia pasang.
Setelah semuanya selesai, kami dengan sigap membereskan peralatan yang telah kami pakai dan mendatanya kembali. Pendataan pun sesuai, maka kami melakukan packing. Setelah packing, kami langsung mencari bis untuk pulang ke Jatinangor. Kira – kira jam 8 malam kami pun sampai.
Puji dan Syukur Tuhan atas perlindungan – Mu
Terima kasih PALAWA UNPAD
Thanks to Para pendamping untuk bimbingan selama Operasional
Tetap semangat saudara – saudaraku !

Sekelompok mahasiswa yang baru kuliah tiga bulan di Unpad sedang kumpul-kumpul
di depan pintu Ruang K-2 di kampus Jalan Dipati Ukur 35 Bandung. Kalau tidak
salah waktu itu sore hari di bulan Oktober 1981.

